Saturday, March 28, 2020

My Trip to Singapore (18-21 January 2020)


PROLOG
Setelah 6 tahun tidak jalan-jalan ke Singapore, akhirnya awal tahun 2020 ini mendapat kesempatan untuk balik lagi ke negara ini. Kali ini, saya mendapatkan tiket promo dari AirAsia (seperti biasa). Sebenarnya, saya dapat tiket gratis. Tetapi, karena saya mau ambil penerbangan paling malam untuk pulang, jadi saya menambah biaya sendiri. Tidak banyak sih, hanya sekitar Rp150.000,00an per orang. Jadi kali ini tidak bisa dikatakan benar-benar gratis tiketnya.
Di perjalanan ini, saya juga membuka jastip untuk yang kedua kalinya. Jastip kali ini juga tidak kalah banyak peminatnya dari jastip Penang kemarin. Lumayan lah, keuntungannya bisa untuk membeli oleh-oleh dan jajan di sini. Kalau mengharapkan keuntungan yang bisa menutup biaya hotel sih rasanya tidak mungkin ya. Hotel di Singapore harganya mahal. Hihihi…
Bicara tentang hotel, saya menginap di 2 hotel yang berbeda lokasinya, tetapi masih 1 jaringan hotel yang sama, yaitu V Hotel Bencoolen dan V Hotel Lavender. Kedua hotel ini saya pilih karena hotel ini ada kamar studio atau kamar untuk 3 orang. Selain itu, hotel ini juga terletak sangat dekat dengan stasiun MRT. Jadi, setelah lelah berjalan-jalan, tidak butuh tenaga tambahan untuk mencapai hotel.
Harga kamar di kedua hotel tersebut hampir sama, sekitar Rp1.800.000,00 per malam untuk 3 orang, tidak termasuk sarapan. Waktu itu, saya memesan hotel melalui aplikasi Traveloka saat promo, sehingga harganya lebih murah. Kali ini, saya akan menjelaskan positif dan negatif dari kedua hotel ini.
Pertama, V Hotel Bencoolen. Hotel ini terletak di sebelah pintu keluar stasiun MRT Bencoolen (jalur biru). Kamar untuk 3 orangnya berupa kamar studio. Terdapat 1,5 lantai. Lantai yang bawah untuk 2 orang dan yang atas untuk 1 orang. Selain letaknya yang strategis, beberapa hal positif dari hotel ini adalah staf yang ramah, kamar bersih dan harum, proses check-in dan check-out yang sangat cepat (benar-benar cepat karena saat check-out mereka tidak memeriksa kamar kita lagi), dan koneksi wifi yang super kencang. Tentu saja ada hal negatifnya juga, yaitu harga relative mahal, kamar dan kamar mandi yang sempit, kamar tidak kedap suara sehingga agak berisik jika ada pengunjung yang mengobrol di lorong hotel. Ada satu hal lagi yang harus dipertimbangkan ketika memilih hotel ini. Stasiun MRT Bencoolen terletak sangat jauh di dalam tanah, sehingga kita harus naik 7 eskalator untuk keluar dari stasiun. Untuk menuju hotel ini, silahkan mengikuti arah “Exit A”, kemudian belok kiri. Oh ya, jika kita tidak mengambil sarapan di hotel ini, jangan khawatir karena ada food court (Food Republic) di dekat hotel ini. Letaknya di ujung jalan (arahnya berlawanan dengan arah menuju MRT). Variasi makanannya juga banyak. Ada juga yang menyediakan makanan halal. Untuk keperluan lainnya, di dekat hotel ini juga terdapat Sevel (7-11). Arahnya sama dengan arah menuju food court.
Kedua, V Hotel Lavender. Menurut saya, hotel ini lebih strategis letaknya, karena berada di jalur yang sama dengan MRT dari Changi Airport (jalur hijau). Terbukti dari banyaknya pengunjung yang menginap di sini (jauh lebih ramai dibandingkan V Hotel Bencoolen). Di hotel ini, saya mengambil kamar dengan tipe triple room. Tidak jauh berbeda dengan V Hotel Bencoolen, di sini juga kamarnya sempit. Untuk menuju hotel ini, silahkan mengikuti arah ke Lavender Street (kalau tidak salah, Exit B). Patokan paling mudah adalah Guardian, belok ke kiri, kemudian naik escalator ke atas, belok kanan ke arah food court, McD, Bee Cheng Hiang, dll, kemudian belok kanan lagi. Jangan khawatir nyasar atau bingung, karena petunjuk arahnya cukup jelas.
Untuk koneksi internet di sana, saya menyewa modem dari Indonesia (IG: @passpod.id), karena kebetulan sedang ada promo Rp25.000,00 per hari dengan deposit Rp500.000,00 yang akan dikembalikan 3 hari kerja setelah kita mengembalikan modemnya. Koneksinya cukup kencang. Lumayan untuk mencari arah di peta. Modem bertahan selama 7 jam. Untuk pengambilan dan pengembalian, bisa dilakukan di Bandara Soekarno Hatta terminal 2F dan 3. Untuk lebih jelasnya, silahkan buka akun instagramnya saja ya…
Jalan-jalan di Singapore akan lebih hemat jika kita menggunakan MRT. Untuk membeli tiket MRT, bisa dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya dengan menggunakan kartu EZ Link dan Singapore Tourist Pass. Silahkan googling ya untuk kedua jenis kartu ini. Saya tidak akan menjelaskan, karena kebetulan saya menggunakan kartu Jenius (dari BTPN) dan saya sangat puas menggunakan kartu ini.

HARI PERTAMA : JEWEL CHANGI DAN CLARKE QUAY
Saya berangkat menggunakan pesawat yang agak siang, sehingga mendarat di Terminal 4 Changi Airport Singapore pukul 14.00. Untuk menuju ke Jewel, terdapat bus gratis yang beroperasi setiap 10 menitan. Kita tinggal mengikuti arah “free shuttle bus”. Hati-hati, jangan salah mengantri karena ada 2 antrian bus, yaitu bus menuju Jewel dan bus menuju MRT. Sebenarnya sih hampir sama ya, karena terletak di bangunan yang saling menyambung. Tetapi kalau salah bus, kita terpaksa harus jalan lebih jauh. Jadi lebih baik perhatikan tulisan antrian atau perhatikan petugas yang akan memberi tahu antriannya.
Banyak aktivitas yang bisa kita lakukan di Jewel. Ada beberapa tempat yang gratis dan ada juga yang bayar. Saya memilih untuk berkeliling di area gratis saja. Jewel ini menyerupai mall yang menyediakan tenant oleh-oleh dan barang-barang branded.

Jewel Changi Airport

Jewel Changi Airport

Foto-foto Cantik Dulu :p

Kejatuhan Air

Jewel Changi Airport
Saya menyempatkan diri untuk mencoba Shake Shack yang terdapat di lantai 2. Kebetulan saat ke sana, antriannya tidak begitu panjang. Kesan saya setelah makan ini adalah mahal. Hahaha… Mungkin untuk standar Singapore, harganya tidak terlalu mahal. Tetapi saya akui, rasanya memang sangat enak. Roti untuk burgernya enak dan lembut. Wajib dicoba kalau ke Singapore, meskipun bukan makanan khasnya, karena Shake Shack juga terdapat di beberapa negara lain. Sayangnya, tidak ada di Indonesia. Hikss…

Menu Shake Shack yang Saya Beli
Saya menghabiskan waktu sekitar 3 jam di Jewel. Itupun saya tidak mengeksplor semua tempat. Setelah dari Jewel, saya menuju ke hotel (V Hotel Bencoolen) dengan naik MRT. Untuk menuju stasiun MRT Changi Airport, dari Shake Shack (lantai 2) tinggal mencari arah pintu keluar dan menyeberang ke gedung lain (Terminal 1). Ikuti arah “Train to City” dengan menaiki skytrain gratis ke terminal 2 atau 3 terlebih dahulu.
MRT Changi Airport merupakan jalur MRT hijau, sementara hotel saya terdapat di MRT biru. Jadi, dari MRT Changi, saya turun di MRT Expo, kemudian menyambung MRT biru arah ke Bukit Panjang dan turun di stasiun Bencoolen. Jika kita menggunakan MRT, penting untuk memahami cara membaca peta jalur MRT supaya tidak nyasar. Apalagi jika kita menggunakan 2 MRT dan harus turun di stasiun tertentu untuk menyambung ke MRT berikutnya. Hati-hati juga saat menggunakan eskalator di stasiun MRT, karena eskalatornya berjalan sangat cepat, tidak seperti eskalator yang terdapat di mall. Penting juga untuk selalu berdiri di sebelah kiri kalau tidak mau disenggol atau diteriaki atau bahkan ditabrak oleh orang-orang sana, karena di sana mereka berjalan dengan sangat cepat.
Setelah check-in dan istirahat sebentar di hotel, saya melanjutkan perjalanan ke Clarke Quay. Cara naik MRT ke Clarke Quay adalah dari Bencoolen, naik MRT biru ke arah Bukit Panjang dan turun di stasiun Chinatown, kemudian menyambung MRT ungu arah ke Punggol dan turun di stasiun Clarke Quay. Stasiun Chinatown sangat padat, karena banyak turis yang ke sana di malam hari. Kebetulan saya sudah pernah ke Chinatown di malam hari, jadi kali ini saya ke Chinatown di siang hari saja. Sekaligus untuk menghindari kepadatan di sana saat malam hari. Area ini padat turis juga karena sudah mendekati Imlek. Sampai-sampai di stasiun MRTnya banyak petugas yang mengarahkan jalan dan siap untuk membantu turis yang kebingungan akibat beberapa akses keluar masuk yang ditutup.
Ada apa di Clarke Quay? Tujuan utama saya ke sana sebenarnya adalah untuk ke Don Don: Donki. Ini adalah supermarket dari Jepang yang tentunya menjual produk-produk asli Jepang. Sebelum kesampaian ke Jepang, tidak ada salahnya mengunjungi supermarketnya dulu. Hihihi…
Mengunjungi Clarke Quay memang lebih baik di malam hari. Kita dapat duduk dan bersantai di pinggir sungai sambil menikmati pemandangan lampu-lampu dan perahu yang melewati sungai. Dari sini juga terlihat Singapore Flyer, kincir raksasa khas Singapore.

Pemandangan Clarke Quay di Malam Hari
Lelah seharian berjalan-jalan, saya memutuskan untuk pulang dan makan di Food Republic yang dekat dengan hotel. Dari Clarke Quay, naik MRT ungu arah Harbourfront dan turun di stasiun Chinatown. Kemudian menyambung MRT biru arah Expo lalu turun di stasiun Bencoolen.

HARI KEDUA : BUGIS, GARDEN BY THE BAY, MARINA BAY
Pagi hari, saya sarapan di sekitar hotel. Setelah itu, saya naik MRT menuju Bugis. Dulu, MRT Bugis hanya dilewati jalur hijau saja. Sekarang sudah ada jalur biru yang lewat ke Bugis. Jadi, saya tidak perlu pindah MRT lagi. Dari MRT Bencoolen, ambil MRT arah Bukit Panjang dan turun di Bugis. Dari stasiun Bencoolen ke Bugis, kita melewati 7 stasiun, padahal sebenarnya jaraknya sangat dekat. Jadi, kalau mau alternatif lain, bisa menggunakan taksi atau bisa juga dengan bus.
Bugis adalah pusat perbelanjaan yang paling diminati di Singapore. Di sini, kita bisa membeli berbagai aksesoris dan souvenir untuk oleh-oleh. Barang-barang di Bugis Street sangat murah harganya. Jangan lupa juga mencicipi berbagai jajanan yang tersedia di sana. Setelah puas belanja di Bugis, saya kembali ke hotel untuk check-out dan pindah ke V Hotel Lavender, kemudian istirahat sebentar.

Ada Si Brownie di Bugis Junction Mall
Pukul 14.00, saya menuju ke Garden by the Bay, dengan stasiun MRT terdekatnya adalah Bayfront (jalur biru). Dari MRT Lavender (hijau), ambil arah Tuas Link atau Jurong East, lalu turun di Bugis (1 stasiun). Kemudian ganti MRT biru ke arah Expo atau Changi, turun di Bayfront (2 stasiun). Turun dari MRT, tinggal mengikuti petunjuk arah menuju ke Garden by the Bay. Jalan kaki kea rah Flower Dome dan Cloud Forest agak jauh, sehingga saya membeli tiket lagi untuk naik tram atau kereta menuju ke sana. Saya lupa harga tiketnya berapa, tetapi harga tersebut sudah termasuk tiket untuk 2 arah (pp).
Saya sudah membeli tiketnya di Traveloka sebelum berangkat ke Singapore. Lumayan, sedang ada promo untuk tiket Graden by the Bay sepaket dengan tiket S.E.A Aquarium. Karena saya sudah memiliki tiketnya, saya langsung masuk antrian untuk masuk ke area Flower Dome. Di Flower Dome ini, kita disuguhkan dengan keindahan berbagai macam bunga dan tanaman ditambah dengan sejuknya udara. Dijamin, kita tidak akan cepat lelah, karena di sini juga tersedia banyak tempat duduk, Karena saya perginya menjelang Tahun Baru Imlek, maka dekorasinya pun disesuaikan dengan tema Chinese New Year.

Flower Dome

Dekorasi Imlek - Shio Ular

Dekorasi Imlek di Flower Dome
Tidak hanya Flower Dome saja, tiket yang saya beli juga sudah termasuk untuk ke Cloud Forest. Di Cloud Forest ini, kita benar-benar bisa merasakan suasana hutan, lengkap dengan air terjunnya. Jika tidak kuat berjalan kaki, disediakan lift dan escalator juga.

Air Terjun di Cloud Forest

Air Terjun di Cloud Forest

Foto Diambil dari Lantai Paling Atas Cloud Forest
Sebenarnya di area Graden by the Bay, ada banyak hal yang bisa di explore jika kuat berjalan kaki, mulai dari OCBC Skyway sampai ke taman-taman yang ada di sekitarnya. Saya tidak menuju ke sana, karena saya juga mengejar pertunjukkan Marina Light Show.
Dari Garden by the Bay, saya menuju ke Marina Bay dengan melewati jembatan penyeberangan yang menuju ke bagian atas Hotel Marina Bay Sands. Ketika melewati bagian hotel, kita bisa melihat restoran yang terdapat di dalam hotel tersebut. Sungguh mewah… Hahaha… Sambil melewati, sambil saya membayangkan kalau saya menginap di sana. Sayangnya, ini hanya halu saja. Hihihi…

Menyeberang ke Marina Bay
Saya menyempatkan diri membeli “Heytea” yang cukup terkenal di Singapore. Heytea berada di Bayfront Ave, Marina Bay Sands. Saya mencoba dua menu favorit di sini, Very Grape Cheezo dan satu lagi adalah menu “seasonal”. Harganya sangat mahal menurut saya (sekitar 10 SGD untuk segelasnya), tetapi karena tidak ada di Indonesia dan saya cukup penasaran, akhirnya saya beli. Dan ternyata… Rasanya sangat enak dan bikin nagih! Sayang tidak ada di Indonesia.

Heytea Singapore - Gelasnya Bisa Dibawa Pulang untuk Kenang-kenangan
Pukul 19.00 pertunjukkan Marina Light Show dimulai. Pertunjukan air dan laser tersebut berlangsung selama 15 menit. Saya tidak terlalu paham dengan ceritanya, karena tangkapan gambarnya kurang bagus dibandingkan dengan pertunjukan serupa di Sentosa Island (Songs of the Sea dan Wings of Time). Atau mungkin juga karena saya tidak duduk di bagian tengah, sehingga gambarnya kurang jelas.

Tempat Pertunjukan Marina Light Show
Setelah pertunjukan ini selesai, Marina Bay Mall langsung dipadati dengan pengunjung, termasuk jalan menuju ke stasiun MRT Bayfront juga dipadati pengunjung. Saya memilih untuk pulang, karena sudah lelah dan mau menyimpan energi untuk besok.

HARI KETIGA : CHINATOWN, SENTOSA ISLAND, VIVO CITY, ORCHARD ROAD
Ke Singapore belum lengkap jika belum ke Chinatown. Ini adalah area paling diminati oleh turis. Saat saya ke Chinatown, banyak anak-anak TK yang sedang fieldtrip dengan orang tua dan guru mereka. Duh, lucu-lucu dan sangat menggemaskan. Mereka diberi penjelasan mengenai makanan dan aksesoris khas Imlek. Kalau kemarin di Bugis bekum sempat beli oleh-oleh atau masih kurang, kita juga bisa beli di Chinatown. Harganya juga tidak kalah murah.

Area Chinatown
Dari Chinatown, saya langsung menuju ke Harbourfront (jalur ungu paling ujung, 2 stasiun dari Chinatown). Stasiun Harbourfront langsung terintegrasi dengan Mall Vivo City, yaitu tempat kita akan naik monorail ke Sentosa Island. Letak stasiun monorail ada di lantai paling atas. Sebelum naik monorail, sempatkan diri dulu untuk keluar dan melihat pemadangan dari lantai paling atas Vivo City. Foto-foto di sini sangat bagus dengan latar laut dan Sentosa Island.

Vivo City
 
Vivo City
Untuk naik monorail, kita harus membeli tiket terlebih dahulu seharga 3SGD. Tiket ini sudah untuk sepuasnya naik monorail di Sentosa. Karena saya sudah beberapa kali ke Sentosa, jadi kali ini saya hanya ke S.E.A Aquarium saja. Untuk menuju ke S.E.A Aquarium dan Universal Studio Singapore, kita harus turun di Waterfront Station, kemudian berjalan kaki sedikit.

Foto di Depan Universal Studio
Ada perbedaan antrian antara yang sudah membeli tiket online dan yang belum. Ternyata, tiket yang saya beli di Traveloka tidak termasuk Maritime Museum, sehingga antriannya langsung masuk ke arah aquarium. Untung saja, saya sudah pernah masuk ke Maritime Museum. Kalau belum pernah ke Maritime Museum, saya sarankan untuk membeli tiket yang bisa akses ke museum tersebut, karena kita juga bisa melihat perjalanan sejarah pelayaran Indonesia.
S.E.A Aquarium adalah tempat favorit saya kalau ke Singapore. Saya selalu terpesona dengan aquarium yang sangat besar dengan hewan laut yang berenang bebas. Rasanya seperti saya ada di dalam laut. Sayangnya, sekarang kita tidak boleh terlalu dekat dengan aquarium yang paling besar itu. Jadi kalau mau foto atau rekam video, cukup dari jauh saja.

S.E.A Aquarium
Satu hal lagi yang saya sukai dari tempat ini adalah touch pool-nya. Kita bisa menyentuh ikan hiu kecil dan bintang laut di sini dalam waktu singkat. Benar-benar singkat karena antrian panjang dan petugas yang menyuruh kita untuk bergantian.

Touch Pool
Saya kembali ke Vivo City untuk makan siang, sekaligus bertemu dengan sahabat lama saya yang kini sudah menjadi warga negara Singapore. Oh ya, di Vivo City, jangan lupa mampir ke Daiso dan membeli Garrett Popcorn ya.
Perjalanan kami lanjutkan ke Orchard Road. Dari Harbourfront, naik MRT ungu arah ke Punggol, turun di Dhoby Ghaut (4 stasiun), lalu ganti MRT merah arah Jurong East dan turun di Orchard Road (2 stasiun). Orchard Road sangat terkenal sebagai pusat perbelanjaan barang-barang branded. Di pinggir-pinggir toko banyak yang berjualan es krim 1.20 SGD yang terkenal dengan nama Uncle Ice Cream.

HARI KEEMPAT : ESPLANADE, MERLION
Hari terakhir selalu saya gunakan untuk bersantai. Bangun tidur sudah agak siang. Kami hanya akan ke Esplanade dan Merlion saja. Terus terang, saya tidak pernah bisa mencari jalan terdekat ke sana jika naik MRT. Kali ini pun saya harus berjalan kaki cukup jauh ke sana. Tetapi, saya menikmati jalan kakinya karena cuacanya sejuk.

Ceritanya Mereka Mau Berenang :D

Jalan Kaki Menuju Merlion

Jalan Kaki Menuju Merlion

Jalan Kaki Menuju Merlion

Hampir Sampai
Saya naik MRT ke Raffles Place (jalur hijau dan merah), kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki ke arah Merlion. Tempat ini selalu penuh karena ini adalah ikon utama Singapore. Jangan lupa foto dengan berbagai pose unik. Banyak juga pasangan yang foto pre-wedding di sini.

Pose Kehujanan

Pose Kehujanan

Pose Minum
Puas berfoto di Merlion, saya melanjutkan perjalanan ke Esplanade. Tempat ini merupakan theater yang juga sering digunakan untuk konser. Saya tidak banyak mengeksplor Merlion, karena kebetulan sedang hujan deras, jadi hanya mampir saja.
Untuk menuju ke Changi Airport Terminal 4, kita hanya perlu naik MRT jalur hijau ke arah Changi Airport. Jangan lupa untuk turun di stasiun Tanah Merah, kemudian menyambung MRT arah ke Changi. Sebenarnya jalurnya sama-sama hijau, tetapi jika kita tidak turun di Tanah Merah, maka MRT akan membawa kita ke Pasir Ris. Setelah turun di Changi Airport, kita tinggal mengikuti petunjuk arah ke Terminal 4 (dengan naik free shuttle bus lagi).

EPILOG
Singapore memang menjadi tempat wisata favorit warga Indonesia. Saya juga menyukai negara ini, karena ketertiban dan keamanannya. Namun, bagi saya biaya wisata di sana cukup mahal, sehingga saya tidak bisa sering-sering ke sana. Tetapi, dengan adanya tiket gratis dari Air Asia, tentu saja dapat membantu saya untuk sering-sering ke sana. Hehehe…

Wednesday, November 27, 2019

Tips dan Trik Berburu Tiket Gratis AirAsia #BahagiaBersamaAirAsia


Baru-baru ini, AirAsia mengadakan BIG SALE tiket gratis ke beberapa destinasi wisata. Seperti biasa, saya juga ikutan berburu. Hasil perburuan saya adalah 3 buah tiket gratis pergi pulang dari Jakarta ke Kuala Lumpur untuk bulan Februari 2021. Harga tiketnya benar-benar gratis. Jadi saya hanya membayar airport tax saja, seharga Rp929.700,00 untuk bertiga. Setelah mendapat tiket gratis ini, tentu saja saya akan “pamer” di status Whatsapp dan di story medsos saya. Nah, dari sinilah banyak pertanyaan yang muncul “Kok kamu bisa dapat tiket gratis terus? Gimana sih caranya? Harus begadang ya? Kok aku cari untuk 4 orang tapi gak ketemu?”

Hasil perburuan saya kemarin

Sebenarnya di artikel sebelumnya, saya sudah pernah menjelaskan mudahnya berburu tiket gratis AirAsia ini. Bagi yang belum membaca, boleh baca dulu ya di sini. Tetapi, karena masih banyak pertanyaan, saya akan menjelaskan lebih rinci di artikel ini ya. Termasuk beberapa tips yang gak banyak orang tau. Kenapa saya bisa tau? Jawabannya ya karena saya terlalu sering berburu tiket gratis ini. Hahaha…
Sebagai informasi, tiket yang saya dapatkan kemarin adalah hasil perburuan di pagi hari. Jadi, terbukti kan gak harus begadang? Biasanya tiket gratis itu hanya untuk destinasi tertentu. Inilah alasan utama betapa pentingnya mendaftarkan email kamu untuk menjadi anggota BIG AirAsia, karena kamu akan mendapatkan informasi mengenai destinasi dan tanggal keberangkatannya. Jangan lupa juga untuk mengikuti akun media sosial AirAsia, mulai dari Facebook, Twitter, hingga Instagramnya. Satu lagi keuntungannya jika kita menjadi anggota BIG, yaitu kita akan mendapatkan diskon langsung yang tidak didapatkan oleh non-anggota BIG. Lumayan, ada selisih sekitar Rp30.000,00 per orang.
Tiket gratis bisa diakses melalui website AirAsia ataupun melalui HP. Seperti biasa, saya berburu tiket gratis melalui aplikasi AirAsia di HP supaya lebih praktis. Anggota BIG akan mendapatkan akses prioritas, sehari sebelum promo dimulai untuk umum. Pukul 23.00 tepat saya ikutan berburu, tetapi belum ada tiket gratis yang terlihat. Pikir saya, mungkin masih loading. Maka, tips dari saya mulailah berburu di pukul 23.30 atau 24.00 saja. Pukul 23.00 selain masih loading harganya, juga sulit aksesnya karena banyak yang berburu di jam tersebut.
Carilah destinasi wisata yang paling banyak tiket gratisnya, yaitu Malaysia. Saat berburu di tengah malam, saya sebenarnya mendapatkan tiket gratis ke Penang. Tetapi, karena Oktober kemarin saya baru ke Penang, jadi saya tidak ambil. Ketika cari destinasi lain, ternyata tidak ada yang gratis. Padahal saya mau mencari yang ke Kuala Lumpur. Biasanya KL juga banyak tiket gratisnya, tetapi ketika saya cari, tidak ada yang gratis. Saya hampir putus asa dan kecewa, lalu memutuskan untuk tidur dan mencoba di pagi harinya.
Keesokan harinya, saya mengecek lagi aplikasinya. Ternyata tiket gratis ke Penang sudah habis dan tidak ada lagi tiket-tiket gratis lainnya. Lalu saya berpikir, kalau semua yang gratis sudah habis semalam, berarti kasihan sekali yang non-anggota BIG, tidak akan mendapat tiket gratis. Rasanya tidak mungkin. Jadi saya berkesimpulan bahwa nanti malam, kuota pasti akan ditambahkan. Jadi saya ikut berburu lagi tengah malamnya, dengan tujuan mencari yang gratis ke KL. Tetapi ternyata hasil begadang sayapun masih sia-sia. Kali ini, yang gratis adalah Singapura. Saya tidak ambil karena Januari nanti saya memang akan ke Singapura.
Besok paginya, di tengah kesedihan saya, tiba-tiba saya mencurigai sesuatu. Saya iseng buka aplikasi dan melihat-lihat perkembangan. Daaannn… Jreng jreng.. Muncullah si tiket gratis dengan tujuan ke Kuala Lumpur. Yihaaaaa… Kecurigaan saya ternyata benar. AirAsia mengeluarkan tiket gratisnya dengan “mencicil” destinasi dan menambah kuota setiap harinya. Untung saja kemarin saya tidak jadi mengambil yang Penang dan Singapura. Xixixi…
Sekarang, saya akan menjelaskan cara berburu tiket gratis ya. Kuncinya hanya satu, KESABARAN. Karena kita perlu mencari tanggalnya satu persatu.
Langkah pertama adalah login ke akun BIG kamu. Lalu, pilih negara asal dan tujuannya. Kemudian, pilih tanggal keberangkatan. Jangan langsung pilih tanggal, lebih baik tunggu sampai terlihat harganya. Ini akan membantu kamu mendapatkan gambaran ada atau tidaknya tiket gratis. Jika sudah terlihat tulisan harga “150K”, pilihlah tanggal tersebut. Lakukan hal yang sama untuk memilih tanggal pulang. Jika tanggal kepulangan tidak ada yang gratis. Maka cobalah ganti tanggal keberangkatan. Ingat, tiket gratis AirAsia ini hanyalah untuk orang-orang yang liburnya fleksibel, bukan untuk orang yang mencari penerbangan di hari besar.

Pilih jumlah penumpang satu orang dulu




Harga yang diberikan dengan warna hijau berarti harga paling murah

Selanjutnya, pilihlah jumlah orang yang berangkat. Saat berburu, pilihlah hanya 1 penumpang dewasa saja, meskipun kamu mau berangkat bertiga atau lebih. Ini yang selalu saya lakukan. Mengapa? Karena beberapa tiket gratis sudah habis kuotanya sehingga hanya tersedia 1 tiket saja. Jika kamu masukan 3 orang, maka yang akan keluar adalah harga promo, bukan harga gratis. Inilah alasannya banyak orang yang bilang “dicari-cari juga gak nemu tiket gratisnya”, “Dilihat dari tanggal harganya 150 ribu tapi pas nyari kok gak ada yang 150 ribu?” Ya iyalah… Kan kuotanya Cuma untuk 1 orang. Kalau kamu masukin 3 orang ya keluarnya bukan yang gratis... 
Terus, berarti kita cuma bisa dapat 1 tiket gratis aja? Percuma dong kalau gitu… Eitsss… tunggu dulu.. Masih ada tips dari saya. Hahaha… Setelah mencari dengan memasukkan 1 orang, akan terlihat kuotanya. Jika terlihat tulisan “1 seats left at this fare”, silahkan coba cari tanggal lain sampai kamu mendapatkan tulisan “3 seats left at this fare” atau “4 seats left at this fare”. Catat tanggalnya. Lalu, cari ulang dengan tanggal yang sama dan masukkan jumlah orang yang sebenarnya. Dengan begini baru kelihatan harga tiket gratis yang kamu dapat. Selanjutnya, tinggal mengikuti langkah-langkah dan proses pembayaran. Akhirnya, kamu akan menikmati tiket gratis tersebut.

Kuota tiket gratis hanya untuk satu orang saja

Tiket gratis bisa untuk 3 orang

Tiket gratis bisa untuk 4 orang

Pengalaman saya selama ini menggunakan AirAsia sangat praktis dan nyaman. Semua proses check-in dapat dilakukan melalui HP atau website dan bisa juga check-in melalui mesin yang terdapat di Bandara. Stiker untuk bagasi juga bisa kita peroleh melalui mesin tersebut, sehingga kita tidak perlu repot antri hanya untuk check-in. Oh ya, saat pesanan tiketpun tidak ditanyakan nomor paspor. Jadi bagi yang belum mempunyai paspor atau paspornya sudah mau habis masa berlakunya, tetap bisa booking tiket AirAsia. Paspor hanya diperlukan pada saat proses check-in saja.
Saya selalu menyukai terbang bersama AirAsia karena awak kabinnya sangat ramah dan siap membantu. Saat take-off dan landing pun mulus, jadi tidak bikin deg-degan. Karena sebenarnya saya adalah seorang yang penakut, padahal sudah sering terbang.
Oh ya, setelah mendapatkan tiket gratisnya, jangan lupa melengkapi tiketmu dengan asuransi perjalanan, memilih kursi, membeli makanan, dan membeli bagasi. Semuanya sangat mudah dilakukan, hanya melalui website atau aplikasinya saja. Saran saya, lebih baik membeli bagasi dan makanan menu santan sebelum kita berangkat, karena harganya lebih murah.
Kesimpulannya, tiket gratis AirAsia itu BUKAN HOAX dan sangat mudah mendapatkannya asalkan kamu rajin, sabar, dan tentunya tau tips dan triknya. Cara ini yang selalu saya pakai jika saya berburu tiket gratis. Duh, gak kehitung deh berapa kali saya ke luar negeri bersama orang tua saya menggunakan tiket gratis. Sesuai dengan motonya AirAsia “NOW EVERYONE CAN FLY”, memang benar-benar terjadi. Siapa sih yang gak mau terbang dengan tiket gratis? Betul gak? Hehehe… Semoga tulisan ini bisa membantu kalian untuk mendapatkan tiket gratis ya. Dan tentunya juga semoga semua bisa bahagia bersama AirAsia.

Wednesday, October 23, 2019

Pengalaman Saya Bahagia Bersama AirAsia #BahagiaBersamaAirAsia (Info Tiket Gratis dan Destinasi Wisata)


Kalau biasanya saya mulai artikel saya dengan kalimat “Tiket gratis lagi!! Yuhuuuu…”, kali ini saya akan membagikan pengalaman saya terbang bersama AirAsia yang sebagian besarnya saya dapatkan dari berburu tiket gratis. Banyak sekali pertanyaan dari teman-teman yang ditujukan ke saya mengenai tiket hemat / gratis dari AirAsia ini. Maka, saya akan coba berbagi lewat tulisan ini. Mudah-mudahan bisa memenuhi rasa ingin tahu dari kalian ya.

Salah Satu Pesawat AirAsia

Saya mengenal AirAsia dari jaman masih sekolah (sekitar tahun 2004). Waktu itu, saya berkeinginan untuk travelling, tetapi apa daya, ekonomi tidak memungkinkan. Apalagi sampai meminta uang dari orangtua. Rasanya tidak mungkin.
Ketika mendekati lulus kuliah, teman-teman mengajak saya ke Bali untuk acara perpisahan. Nah, inilah pertama kalinya saya terbang bersama AirAsia. Jujur, waktu itu saya memilih AirAsia karena maskapai ini yang paling murah di antara maskapai lain. Ternyata, saat naik pesawatnya, saya merasa sangat nyaman. Apalagi pada saat take-off dan landing. Menurut saya, setiap kali saya naik AirAsia, saya selalu merasa aman ketika take-off dan landing. Sejak saat itu, saya jadi “ketagihan” berburu tiket AirAsia.
Bagaimana dengan tiket gratis? Oke, saya akan bahas caranya ya… Sebenarnya caranya sangat mudah. Buktinya, saya sudah berkali-kali dapat tiket gratis ke luar negeri. Sebelum ada promo tiket gratis, saya sangat menyarankan kalian untuk mendaftarkan email kalian menjadi anggota BIG. Banyak banget keuntungannya kalau kita menjadi anggota BIG, mulai dari mendapat info-info terbaru hingga pengumpulan poin yang dapat kita tukarkan lagi menjadi tiket. Seru kan? Keuntungan yang paling bermanfaat bagi saya adalah dengan menjadi anggota BIG, kita mendapatkan prioritas satu hari dalam berburu tiket gratis. Lumayan loh, jadinya tidak terlalu banyak saingannya.
Untuk berburu tiket gratis, biasanya akan dimulai pukul sebelas malam. Tips dari saya, kita berburu di sekitar jam dua belas saja, karena biasanya pukul sebelas itu banyak banget yang sudah antri mau berburu, jadi kadang-kadang agak sulit dapatnya. Pengalaman saya sih biasanya lebih mudah di jam 12 atau jam 1. Berburunya bisa lewat aplikasi di HP ataupun lewat website AirAsia ini. Saya selalu menggunakan aplikasi di HP, karena lebih praktis dan bisa cari-cari tiket di mana saja. Kemudian, rute yang gratis paling banyak adalah rute internasional, seperti Malaysia dan Singapura. Jangan mencari tiket gratis untuk penerbangan high season ya. Tidak akan dapat. Tiket normal aja jadi mahal kan kalau high season? Hehehe… Usahakan cari penerbangan di weekdays, tetapi tidak menutup kemungkinan dapat weekend. Saya pernah dapat weekend untuk penerbangan gratis ke Penang.
Saat berburu tiket gratis, harus cepat memutuskan ya… Jadi jangan lama-lama mikirnya. Nanti keburu lepas tiket gratisnya. Jadi biasanya, saya langsung booking begitu dapat. Setelah tiket sudah di tangan, baru deh saya beli ini-itu. Nah, apa saja yang bisa kita lakukan di aplikasi atau website AirAsia?
Membeli kursi. Ini hal yang paling sering saya lakukan, karena saya biasanya pergi bertiga dengan orang tua saya. Jadi saya tidak mau duduk terpisah dengan mereka. Nah, untuk kursi ini dibagi menjadi beberapa kategori. Tinggal pilih mana yang paling nyaman untuk kalian.
Membeli asuransi. Ini juga penting lho untuk jaga-jaga. Asuransi ino bukan hanya mencakup jiwa, tetapi juga untuk bagasi dan keterlambatan.
Makanan (menu Santan). Saya paling sering terbang di pagi hari dan malam hari, karena gak mau rugi. Hahaha… Jadi, saya biasanya membeli makanan di pesawat. Tips dari saya, lebih baik beli makanan sebelum penerbangan, supaya lebih murah dan lebih bamyak variasi. Menu Santan dari AirAsia juga banyak variasi dan menurut saya, rasanya sangat enak.




Menu Santan AirAsia
Bagasi. Beberapa kali penerbangan terakhir, saya selalu membeli bagasi, karena saya baru memulai bisnis jastip. Kalau hanya bagasi kabin, pasti tidak cukup.
Check-in. Kita juga bisa check-in lewat aplikasi loh. Ini sangat memudahkan, apalagi jika penerbangan paling pagi. Jadi kita tidak perlu datang terlalu awal hanya untuk antri check-in. Di bandarapun, kita bisa melakukan proses check-in lewat mesin AirAsia. Prosesnya mudah, hanya dengan men­-scan­ paspor dan melaporkan berapa koper yang akan masuk bagasi. Setelah itu, akan keluar tiket dan stiker untuk dipasang di koper. Kalau masih bingung, jangan takut karena di sana pasti ada petugas yang siap membantu.
Banyak rute yang bisa dijangkau AirAsia. Kali ini, saya akan membagikan pengalaman saya ke beberapa destinasi yang sudah pernah saya kunjungi dengan pesawat AirAsia.
Domestik:
Bali. Pertama kali saya terbang dengan AirAsia ya ke Bali ini. Pergi bersama teman-teman untuk acara perpisahan di tahun 2010. Kemudian di tahun 2015, saya ke Bali lagi bersama keluarga. Bali merupakan surganya pecinta laut. Ini merupakan salah satu destinasi utama di Indonesia. Bukan hanya laut, tapi Bali juga terkenal dengan wisata kebudayaannya. Saya ada rencana untuk balik lagi ke Bali untuk mengunjungi GWK yang sekarang sudah bagus.

Tegalalang - Terasering di Bali

Kintamani

Objek Wisata Pura
Jogjakarta. Saya sudah 4 kali ke Jogja, yaitu di tahun 2014, 2015, Juni 2018, dan Desember 2018. Pengalaman paling menarik yaitu di Juni 2018. Saat itu, sengaja saya pergi di  tanggal ulang tahun papa. Beliau sangat menyukai gunung. Keinginannya ke Merapi tercapai di tahun 2018 kemarin. Tidak hgnya Merapi, kami juga ke Dieng dan Sarangan. Ini adalah destinasi-destinasi yang ingin dikunjungi papa. Senang rasanya bisa mengajak beliau ke tempat yang ingin ia kunjungi.


Prambanan

Borobudur

Wisata Merapi

Wisata Merapi

Hutan Pinus

Museum Ullen Sentalu

Candi Sambisari

Internasional:
Malaysia (Kuala Lumpur). Saya sudah 4 kali ke negara tetangga ini dengan menggunakan tiket gratis, yaitu di tahun 2012, 2013, 2015, dan 2018. Tempat wisata favorit saya di KL adalah Genting dan Batu Caves. Saya sangat menyukai suasana sejuk di Genting. Pengalaman tak terlupakan adalah ketika naik kereta gantung (skyway). Awalnya ketika baru naik, saya berani. Tapi begitu sampai di titik tertinggi, saya langsung takut. Karena pemandangannya tertutup kabut semua dan kereta gantungnya bergoyang tertiup angin. Wah, rasanya seperti olahraga jantung, tapi bikin ketagihan. Hahaha… Di genting, tidak hanya terdapat shopping mall saja, tetapi juga ada Chin Swee Temple. Sempatkan diri kalian ke sini ya, karena pemandangannya sangat indah. Batu Caves juga tempat favorit saya. Dulu waktu pertama kali pergi, tangga-tangganya masih belum secantik sekarang. Jangan lupa juga untuk membeli nangka di Batu Caves ini, karena nangkanya sangat manis.

Menara Kembar Petronas

Mall di Genting

Awana Skyway Menuju Genting

Chin Swee Temple

Melaka

Sungai Melaka

Batu Caves (Sebelum Renovasi)

Batu Caves (Setelah Renovasi)
Malaysia (Penang). Baru Oktober 2019 kemarin saya mengunjungi Penang dengan tiket gratis. Tempat ini juga menarik dengan segala kulturasi budayanya. Penang juga merupakan salah satu destinasi pecinta kuliner, karena kuliner di sini sangat enak dan murah.

Rainbow Skywalk Komtar

Kek Lok Si Temple

Bukit Bendera - Penang Hill

Penang Peranakan Mansion

Street Art
Singapura. Terakhir kali saya mengunjungi Singapura di tahun 2013. Januari 2020 nanti, saya akan ke Singapura lagi. Ini adalah negara favorit saya karena keamanan, kebersihan dan ketertibannya. Semoga suatu hari nanti, Indonesia bisa bersih dan tertib seperti Singapura ya… Saya senang berkunjung ke Singapura karena transportasi di sana sangat mudah.

Merlion dan Esplanade

Merlion dan Marina Bay Sands

Patung Stamford Raffles

CHIJMES

Bugis Junction

Clarke Quay

Universal Studio

S.E.A Aquarium di Sentosa Island

Pertunjukkan Crane Dance di Sentosa Island

Itulah pengalaman saya travelling ke beberapa destinasi wisata dengan tiket murah dan tiket gratis dari AirAsia. Terus terang, saya tidak pernah membayangkan bisa pergi berkali-kali ke luar negeri dengan biaya yang terjangkau dan bisa mengajak orang tua juga. Terima kasih Air Asia. Ayo kita #BahagiaBersamaAirAsia !
 
Jangan lupa foto bersama pesawat AirAsia :)